Sebuah ruang persidangan dewan yang berukuran besar. Ruangan yang dianggap terhormat oleh para tikus di negeri antah-berantah. Ruangan ini dilengkapi alat tulis dan perangkat komputer yang cukup lengkap. Di barisan paling depan nampak kursi pimpinan yang tinggi dan cukup empuk. Perangkat ketuk palu yang besar tergeletak di atas meja pimpinan seolah-olah selalu menunggu untuk melayani sang tuan besar dalam mengambil keputusan. Dalam ruangan inilah para dewan tikus ramai mendikusikan persoalan penting melawan kelompok tikus lain yang mengganggu stabilitas dan kemapanan dewan terhormat. Pimpinan sidang mulai angkat bicara. “Saudara-saudari, kita adalah wakil rakyat. Utusan rakyat yang punya hak penuh untuk menentukan kebijakan di negeri ini. Berapa banyak pasal yang kita telah buat dan sudah banyak nomor undang-undang yang telah kita cetuskan selama ini. Namun bagi saya, pekerjaan kita seolah-olah tidak dihargai oleh kelompok lain di negeri pertikusan ini. Padahal kita ini adalah s...